Apa sikap seorang muslim dalam menanggapi VAKSINASI

vaksinasi

#Bismillahirohmanirohim

Vaksin merupakan murupakan produk bioteknologi yang memiliki standar keamanan sangat tinggi. Setiap tahap dalam proses produksi vaksin wajib mengikuti kaidah Good Manufacturing Practice (GMP) dan diawasi dengan sangat ketat oleh lembaga yang berwenang. World Health Organization (WHO) telah mengeluarkan panduan teknis untuk mengatur hal ini, sehingga vaksin yang diproduksi oleh produsen dari negara manapun memiliki kualitas yang sama.

Vaksin didefinisikan (Rambe dalam Ismail, 2014 ) sebagai substansi/preparat yang dapat memberikan kekebalan terhadap suatu penyakit dengan cara menstimulasi produk antibodi yang spesifik. Dahulu, vaksin yang hanya berupa vaksin profilaksis/pencegahan, namun seiring dengan perkembangan bioteknologi yang sangat pesat, kini juga tersedia vaksin teurapeutik/pengobatan, khususnya untuk terapi kanker. Selanjutnya, penggunaan istilah “vaksin” pada tulisan ini merujuk pada vaksin profilaksis.

Secara umum, vaksin mengandung komponen-komponen sebagai berikut:

  1. Antigen, merupakan komponen utama vaksin. Antigen berfungsi untuk menstimulasi sistem imunitas tubuh agar memproduksi antibodi yang spesifik.
  2. Ajuvan, berfungsi untuk memperkuat renspons imun.
  3. Stabilizer, berfungsi untuk menstabilkan vaksin, misalnya pada suhu ekstrim.
  4. Aditif/preservatif, berfungsi sebagai antimikroba, khususnya pada vaksin kemasan multidosis.
  5. Residu, terkadang terdapat zat yang ditemukan dalam jumlah amat sangat kecil, misalnya antibiotik yang digunakan dalam proses kultur bakteri (tahap awal proses produksi).

Proses produksi vaksin sangatlah kompleks dan khas untuk masing-masing vaksin. Tahapan-tahapan dalam proses produksi vaksin mati memiliki perbedaan dengan tahapan pada proses produksi vaksin hidup (live-attenuated vaccine), walaupun pada prinsipnya sama. Bayangan bagi orang awam adalah saat memproduksi vaksin serupa dengan membuat puyer racikan: zat A + zat B + zat C dan zat lain yang dibutuhkan, dimasukkan ke dalam sebuah wadah, lalu dicampurkan begitu saja. Jelas ini adalah pemahaman yang keliru, karena setiap tahapan proses produksi vaksin dilakukan pada kompartemen yang terpisah. Bahan baku untuk keperluan-keperluan tertentu tidak bersingguangan satu sama lain. (Ibid)

Masih dalam tulisan yang sama, (Rambe dalam Ismail, 2014 ) menuliskan mengenai “Penggunaan enzim bersumber babi pada proses produksi vaksin”. Dengan teknik produksi yang lampau, proses pembuatan master seed menjadi working seed beberapa vaksin masih menggunakan enzim yang bersumber dari pankreas babi (porcine pancreatic enzyme). Sebagai contoh, dalam tulisan dari Rambe yang mencoba menguraikan pembuatan vaksin miningitis. Vaksin miningitis saat ini, termasuk merek Menveo yang digunakan oleh pemerintah untuk jamaah haji dan umrah, sudah tidak lagi menggunakan teknik ini (tidak menggunakan enzim bersumber babi).

Lebih lanjut Rambe menjelaskan secara lebih terperinci mengapa proses produksi vaksin miningitis harus bersinggungan dengan enzim tersebut?Dalam konteks pembuatan vaksin miningitis, sel-sel bakteri Neisseria meningitidis (penyebab miningitis) ditumbuhkan pada media pertumbuhan dalam cawan petri, yang berisi media pada Mueller Hinton Medium (MHM) dan Tryptic Soy Broth (TSB). MHM berisi enzim pankreas babi, yang berfungsi melakukan digesti protein-protein yang terdapat di medium tersebut, berasal dari berbagai sumber termasuk bovine skeletal muscle.

Contoh konkrit terbaru mengenai pencegahan menggunakan vaksin adalah program pemerintah (thogut) RI terkait filariasis (kaki gajah) pada 1 Oktober 2015. program tersebut bernama Bulan Eliminasi Kaki Gajah (BEKG) yang bekerjasama dengan kementerian kesehatan (Kemenkes). Bentuknya adalah mengajak masyarakat meminum obat anti kaki gajah setahun sekali selama lima tahun guna mencegah penyakit itu.

Haruskah mencegah penyakit dengan menggunakan vaksin? Sayyid, 2012 Berikut adalah penjabaran mengenai tindakan pencegahan dari penyakit berdasarkan kisah dari Syamardel bin Qubats al-Ka’bi yaitu seorang dokter terkenal di kalangan Arab yang tinggal di daerah Najran. Ketika ia mendengar Rasulullah SAW memiliki pengetahuan tentang kedokteran, ia bergegas datang untuk menguji Rasululloh. Kemudian, ia mengajukan banyak pertanyaan tentang berbagai penyakit dan cara pengobatannya. Kemudian, Rasululloh SAW, balik bertanya kepadanya tentang berbagai penyakit dan cara pengobatannya. Syamardel terkejut karena ia tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Akhirnya, ia yakin akan kebenaran yang telah dibawa Rasulullah SAW., lalu ia berkata,” Wahai Rasulullah. Demi bapak dan ibuku, aku adalah seorang dukun dan tabib di kalangan kaumku pada zaman jahiliah. Apa yang harus aku lakukan?” Lalu, Rasulullah SAW, berkata,”Bedahlah uratnya, tusuklah jika engkau terpaksa, dan gunakanlah sana (sejenis tumbuhan), dan janganlah engkau mengobati seseorang sebelum mengetahui jenis penyakitnya.” Kemudian, Syamardel langsung menunduk dan mencium lutut Rasulullah SAW,. Lalu ia berkata,”Wahai Muhammad SAW. Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan hak, engkaulah yang lebih pandai dari aku dalam kedokteran, aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Alloh SWT dan Muhammad SAW adalah utusan Alloh.” akhirnya, Syamardel memeluk Islam dan mengamalkan ajaran-ajarannya dengan baik.

Dari peristiwa itu, mengambarkan bahwa Nabi Muhammad SAW merupakan penemu seni kedokteran dan melebihi dokter-dokter yang terkenal pada zamannya. Risalah yang dibawanya bukan risalah kedokteran, melainkan risalah akidah dan agama. Apa yang diungkapkannya bersumber dari wahyu Alloh SWT.

Rasulullah SAW menitikberatkan filsafat kedokteran dalam beberapa hal berikut:

  1. Membersihkan kedokteran dari unsur-unsur khufarat, dajjal, dan sihir.Rasulullah SAW, bersabda,”Barangsiapa yang menggantungkan jimat, maka dia telah menyekutukan Alloh. Jampi-jampi (pelet), jimat dan guna-guna merupakan unsur-unsur syirik.” Akhirnya, Rasulullah SAW pun berhasil menghancurkan perkara-perkara ini.At-tiwalah (pelet) adalah sihir yang dapat melarikan seorang perempuan dari suaminya. Perbuatan ini termasuk syirik karena penggunanya berkeyakinan bahwa jampi-jampi itu dapat menimbulkan pengaruh bertentangan dengan hal-hal yang telah digariskan oleh Alloh SWT.
  2. Meletakkan dasar-dasar tindakan pencegahan dari penyakit.Rasulullah SAW telah meletakkan dasar kebersihan lingkungan dan berusaha menjadikannya suatu keharusan. Dengan melihat sunnah-sunnah Rasulullah SAW, maka akan kita temukan bahwa Rasul ternyata melampaui seluruh dokter dan medahului ilmu-ilmu lain di bidang ini.
  3. Mempraktikan tindakan pencegahan dari panyakit saat membutuhkanRasulullah SAW telah memerintahkan kaum muslimin untuk melakukan pengobatan. Seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW., “Apakah kita harus berobat?” Rasulullah menjawab,’Ya, wahai hamba Alloh! Berobatlah karena Alloh tidak membuat satu penyakit, kecuali Dia juga memberikan penawarnya, kecuali satu penyakit.” lalu, laki-laki itu bertanya lagi,” Apa penyakit itu, wahai Rasulullah SAW?” Beliau menjawab, “Penyakit Tua.” (HR Turmudzi).

Diantara keagungan Rasulallah SAW adalah petunjuk dan tuntunan medis yang mencapai derajat luar biasa, padahal ketika itu ilmu kedokteran masih dalam tahap permulaan. Meskipun, Rasulullah belum pernah mempelajari dan mendalami ilmu kedokteran.

Kesimpulan yang diperoleh penulis dari dua buku di atas adalah bahwa banyak dari vaksin mempergunakan bahan-bahan yang tidak sesuai syariat, seperti bagian dari tubuh babi. Padahal sebagai muslim sudah sepantasnya kita menjauhi hal-hal yang haram apalagi yang menimbulkan syubhat. Sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW,

Sesungguhnya yang halal itu jelas, sebagaimana yang haram pun jelas. Di antara keduanya terdapat perkara syubhat -yang masih samar- yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Barangsiapa yang menghindarkan diri dari perkara syubhat, maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Barangsiapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka ia bisa terjatuh pada perkara haram. Sebagaimana ada pengembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tanah larangan yang hampir menjerumuskannya. Ketahuilah, setiap raja memiliki tanah larangan dan tanah larangan Allah di bumi ini adalah perkara-perkara yang diharamkan-Nya.” (HR. Bukhari no. 2051 dan Muslim no. 1599).

Namun penulis memberikan ruang bagi kaum muslimin untuk bertabayun terhadap jenis vaksin yang akan dipergunakan, apabila vaksin tersebut memang dibutuhkan karena perkara yang terdesak maka hal tersebut bisa dibenarkan menurut syariat, akan tetapi harus berikhtiar terlebih dahulu untuk mencari vaksin yang lebih thoyib dengan lebih mengutamakan pengobatan cara Nabi SAW atau biasa disebut dengan Thibun Nabawi.

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang [ketika disembelih] disebut [nama] selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa [memakannya] sedang ia tidak menginginkannya dan tidak [pula] melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. Al-Baqarah [2]: 173)

Ayat-ayat yang senada dengan ini banyak sekali, yaitu: al-Maidah [5] ayat 3, al-An’am [6] ayat 119 dan 145, dan an-Nahl [16] ayat 115. Ayat-ayat ini menunjukkan pembolehan mengkonsumsi makan makanan yang haram tersebut dalam kondisi darurat. Dengan ini, semua yang asalnya haram pun bisa menjadi boleh jika dalam kondisi darurat.

Masalah kondisi darurat ini masuk dalam keumuman kaidah-kaidah umum, yaitu:

Pertama: Syari’at Islam ini terbangun atas dasar mendatangkan kemaslahatan dan menolak mafsadat.

Kedua: Syari’at Islam dibangun untuk menjaga lima pokok utama yaitu: agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.

Ketiga: Syari’at Islam dibangun di atas dasar kemudahan dan menghilangkan kesulitan.

Keempat: Hukum-hukum Islam terbangun atas dasar kemampuan hamba.

Hal terpenting dari menyikapi vaksin yang kini menjadi sebuah keharusan bagi kaum muslimin khususnya jika ingin pergi beribadah Haji dan Umroh, vaksin juga diwajibkan bagi bayi-bayi yang sedang masa pertumbuhan. Sebagai pengganti vaksin miningitis pada ibadah haji atau umroh, bisa dengan berbekam yang disunnahkan oleh Nabi Muhammad SAW. Sedangkan pada kasus balita atau bayi pada masa pertumbuhan, cobalah melihat hadist Nabi SAW yang berbunyi.

“Aku membawa Abdullah bin Abi Thalhah Al-Anshari kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan saat itu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang sibuk mengurusi ontanya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Apakah kamu membawa kurma?”. Saya menjawab: “Ya”. Beliau kemudian mengambil beberapa kurma lalu dimasukkan ke dalam mulut beliau dan melembutkannya. Setelah itu beliau membuka mulut bayi dan disuapkan padanya, bayi itu mulai menjilatinya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kesukaan orang Anshar adalah kurma.” Kemudian (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) memberinya nama Abdullah.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Pada intinya, vaksinasi pada balita atau bayi pada saat pertumbuhan yang digalakkan oleh pemerintah (thogut RI) merupakan suatu hal yang perlu dipertanyakan, karena pada qodratnya manusia diberikan sistem keamanan tubuh yang sudah sempurna sehingga tidak lagi perlu penambahan vitamin yang berasal dari proses kimia.

Selanjutnya pengobatan ala Nabi atau yang lebih popular dengan Thibun Nabawi menjadi lebih dipercaya masyarakat karena alasan syar’i dan jika mengamalkan mendapatkan pahala, karena merupakan sunnah Nabi SAW.

Berikut ini adalah beberapa tata cara pengobatan ala Nabi Muhammad SAW, yang terdiri atas; penggunaan habbatusaudah, penggunaan madu, berbekam dan meminum air zam-zam.

“Sesungguhnya di dalam habbatus sawda’ (jintan hitam) terdapat penyembuh bagi segala macam penyakit kecuali kematian”.
Ibnu Syihab mengatakan : “Kata As-Saam di sini berarti kematian, sedangkan habbatus sawda’ berarti syuniz” [1] Habbatus sawda’ ini mempunyai manfaat yang sangat banyak. [2]
Jintan hitam sangat bermanfaat untuk mengobati berbagai macam penyakit dengan izin Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang memikirkan” [An-Nahl : 69]

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Kesembuhan itu ada pada tiga hal, yaitu : Dalam pisau pembekam, meminumkan madu, atau pengobatan dengan besi panas (kayy). Dan aku melarang ummatku melakukan pengobatan dengan besi panas (kayy)”. [3]

Berbekam [5] termasuk pengobatan yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan bekam dan memberikan upah kepada tukang bekam.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Sesungguhnya sebaik-baik apa yang kalian lakukan untuk mengobati penyakit adalah dengan melakukan bekam” [6]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Sebaik-baik pengobatan penyakit adalah dengan melakukan bekam” [7]

Wasiat Malaikat Untuk Berbekam
Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Tidaklah aku melewati seorang Malaikat –ketika di Mi’rajkan ke langit- kecuali mereka mengatakan ‘Wahai Muhammad, lakukanlah olehmu berbekam” [8]

Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan ketika beliau di Isra’kan, tidaklah beliau melewati sekumpulan Malaikat melainkan mereka meminta kami,” Perintahkanlah ummatmu untuk berbekam” [9]

Waktu Yang Paling Baik Untuk Berbekam
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang ingin berbekam, hendaklah ia berbekam pada tanggal 17,19,21 (bulan Hijriyyah), maka akan menyembuhkan setiap penyakit” [10]

Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu berkata : “Sesungguhnya hari yang paling baik bagimu untuk berbekam adalah hari ke 17, hari ke 19, dan hari ke 21 (bulan Hijriyyah)” [11]
Hari yang paling baik untuk berbekam adalah pada hari Senin, Selasa dan Kamis. Sebaliknya hindari berbekam pada hari Rabu, Jum’at, Sabtu dan Ahad” [12]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda mengenai air zamzam ini.
“Air zamzam itu penuh berkah. Ia merupakan makanan yang mengenyangkan (dan obat bagi penyakit)” [13].

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda.
“Air zamzam tergantung kepada tujuan di minumnya” [14]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membawa air zamzam (di dalam tempat-tempat air) dan girbah (tempat air dari kulit binatang), beliau menyiramkan dan meminumkannya kepada orang-orang yang sakit” [15]

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata : “Aku sendiri dan juga yang lainnya pernah mempraktekkan upaya penyembuhan dengan air zamzam terhadap beberapa penyakit, dan hasilnya sangat menakjubkan, aku berhasil mengobati berbagai macam penyakit dan aku pun sembuh atas izin Allah” [16]

Penutup dari penulis, kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar Dia memberikan bimbingan kepada kita untuk dimudahkan dalam menggunakan pengobatan yang sesui dengan syari’at dan menjauhkan kita dari obat-obatan modern yang condong ke arah syubhat dan penuh dengan konspirasi ini.

Wallohu’alam bishawab
Alfaqir Alloh

Abu Arim Al Ahmad bin Muhammad Musa

Hancurkan makananmu dengan dzikir dan sholat serta jangan tidur setelah makan karena hatimu akan mengeras”. (HR Thabrani)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,” Hendaklah kalian menggunakan dua obat yaitu madu dan Al Qur’an. (lihat Sunan Ibnu Majah, j.II, h.1142, hadist no.3452, bab Madu)

Referensi

Ismail, 2014: Dr. Siti Aisyah Ismail, dkk., Bunga Rampai Kedokteran Islam “KONTROVERSI IMUNISASI” Kumpulan Tulisan 33 Ahli: Dokter, Pakar Kesehatan, dan Pakar Syariah., 2014

Sayyid, 2012: Prof. Dr. Abdul Basith Muhammad Sayyid, Rasullah Sang Dokter: Rahasia di Balik Ilmu Kedokteran Modern (Ath-Thib Al-Wiqa’i min Al-Qur’an was as-Sunnah, 2012

Sumber lain :

[1]. Al-Bukhari no. 5688/Al-Fath X/143, dan Muslim no. 2215 dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu. Lafazh ini adalah lafazh Muslim.
[2]. Zaadul Ma’aad IV/297 dan lihat juga Ath-Thibbu Minal Kitab was Sunnah, karya Al-Allamah Muwaffaquddin Abdul Lathif Al-Baghdadi (hal.88)
[3]. HR Al-Bukhari no. 5681/Fathul Baari X/137. Lihat bab : “Beberapa manfaat madu”. Zaadul Ma’aad IV/50-62 dan juga Ath-Thibbu Minal Kitab was Sunnah, karya Al-Allamah Muwaffaquddin Abdul Lathif Al-Baghdadi (hal. 129-136)
[4]. Lihat bahasan ini dalam Manhajus Salaamah fiimaa Warada fil Hijaamah oleh Dr Muhammad Musa Nashr.
[5]. Bekam : Mengeluarkan darah kotor dari kepala, badan, dan anggota tubuh lainnya dengan alat bekam.
[6]. HR Abu Dawud no. 3857 dan Ibnu Majah no. 3476, Al-Hakim IV/410, Ahmad II/342 dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, lihat Shahiih Ibni Majah II/259 no 2800 dan Silsilah Al-Ahaadiits Ash-Shahiihah no. 760
[7]. HR Ahmad V/9,15,19, Al-Hakim IV/208 dari Samurah Radhiyallahu ‘anhu. Lihat Shahiih Al-Jaami’ish Shaghiir no. 3323, Silsilah Al-Ahaadiits Ash-Shahiihah no. 1053.
[8]. HR Ibnu Majah no. 3477, Shahiih Ibni Majah II/259 no. 2801, Silsilah Al-Ahaadiits Ash-Shahiihah no. 2263
[9]. HR At-Tirmidzi no. 2052, Shahiih Sunan At-Tirmidizi II/204 no. 1672
[10]. HR. Abu Dawud no. 3861 Al-Hakim, Al-Baihaqi IX/340 Dari Abu hurairah Radhiyallahu ‘anhu. Lihat Silsilah Al-Ahaadiits Ash-Shahiihah no 622
[11]. Shahiih Sunan At-Tirmdizi II/204 no. 1674
[12]. HR Ibnu Majah no. 3487, Shahiih Ibn Majah II/261, Silsilah Al-Ahaadiits Ash-Shahiihah no. 766
[13]. HR Muslim IV/1922 no. 2473 dan matan yang terdapat dalam kurung adalah menurut riwayat Al-Bazaar, Al-Baihaqi dan Ath-Thabrani, dan sanadnya Shahih. Lihat Majma’uz Zawaa’id III/286
[14]. HR Ahmad III/357, 372, Ibnu Majah no. 3062 dan lainya dari Jabir bin Abdillah Radhiyalahu ‘anhu, lihat Shahiih Ibni majah II/183 dan Irwaa’ul Ghalil no. 1123
[15]. HR At-Tirmidzi dan Al-Baihaqi V/202, lihat Shahiih At-Tirmidzi I/284, Silsilah Al-Ahaadiits Ash-Shahiihah no. 883. Dan juga Zaadul Ma’aad IV/392
[16]. Zaadul Ma’aad IV/393 dan 178

sebagai referensi video silahkan tonton video di bawah ini, semoga menjadi bahan penceharan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s